Senin, 12 Januari 2015

Rahasia Memeluk dan Rahasia Sebuah Pelukan
Diberitakan dalam sebuah berita di TV Channel-7 Sydney bahwa bayi lahir prematur 27 minggu yang sudah dinyatakan meninggal, hidup lagi setelah 2 jam DIPELUK ibunya.
Yang dilakukan oleh si ibu, dikenal sebagai “Kangaroo Care”, yaitu perawatan bayi prematur dengan cara memberikan sentuhan hangat dan menyalurkan energi si ibu pada bayinya.
Kisah nyata di atas juga membuktikan bahwa “PELUKAN” bisa memberi keajaiban, dan bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Cuma memang Saya kasihan pada yang jomblo, maaf ya bukan ingin membuat sensitif.
Seorang ahli terapis berkata: “Jika rumah tangga Anda diambang kehancuran, peluklah pasangan Anda 20 kali sehari. Saya yakin Anda berdua tidak akan bercerai”.
Setiap orang butuh:
  • 4 kali Pelukan/hari untuk tetap hidup
  • 8 kali Pelukan/hari untuk sehat
  • 12 kali Pelukan/hari untuk awet muda & bahagia
Saat berpelukan, tubuh melepaskan “hormon OXYTOKSIN” yang tersambung dengan rasa damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran sehat.
Pelukan dapat dilakukan pada semua, suami/istri, keluarga, anak, orang tua, dan teman (Ini Kabar Gembira buat jomblo)
Pelukan  juga berlaku pada anak-anak. Jika bayi Anda rewel, peluklah dia maka dia akan merasa aman dan efeknya pada kekebalan tubuh.
Pelukan juga dapat mengurangi sakit fisik maupun psikis, dan mengubah emosi negatif  menjadi positif.
Jadi, sekarang siapkan pelukan terbaik Anda untuk orang-orang yang Anda cintai!!
Minimal pada suami istri sebelum berangkat kerja dan pulang kerja.
Orang tua dan anak saat pergi dan pulang sekolah.
Namun tidak berlaku bagi yang memeluk bantal guling dan tidur kembali pagi ini
Sudahkah Anda memeluk anak, orang tua, suami/istri anda pagi ini?
Selamat Menikmati Keajaiban Berpelukan ..
“Berpelukan….” Jadi Ingat film anak-anak itu…
Selamat Memberi Pelukan Terbaik
Berikan harapan hidup lebih lama pada orang yang Anda cintai dan berikan kedamaian hati  dengan satu tindakan yaitu “Memeluknya”


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/01/12/62425/ingin-memeluk-dirimu/#ixzz3OgB2QkUN 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Mencetak Generasi Baru dengan “Sekolah Ibu”


Beberapa waktu yang lalu berita tentang balita penderita gizi buruk mulai menyeruak kembali setelah beberapa saat tak terdengar kabarnya. Tercatat di Sragen, khususnya di kecamatan Gemolong terdapat 98 balita penderita gizi buruk. Saat diteliti, ternyata faktor utama balita gizi buruk bukan hanya karena faktor ekonomi saja. Sebagian balita gizi buruk berasal dari kalangan menengah ke atas yang sulit diajak makan. Hal ini juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran orang tua terutama ibu untuk memberi asupan makanan seimbang atau istilahnya tidak ada kreativitas untuk membuat anak mau makan makanan bergizi. Kasus lain adalah masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. 
Menurut catatan Direktorat Bina Kesehatan Ibu, rata-rata setiap tahun sekitar 165 ibu dan bayi baru lahir mengalami kematian. Angka ini terbilang cukup tinggi mengingat di seluruh dunia terjadi kematian ibu dan bayi lahir sekitar 585.000 setiap tahunnya. Penyebab langsung kematian ibu dan bayi lahir bervariasi. Mulai dari perdarahan (28%), eklamsia/keracunan kehamilan (24%), infeksi, aborsi, komplikasi, trauma obstretrik hingga lamanya proses persalinan (masing-masing 5%).

Jika sudah lahirpun, peluang tumbuh kembang anak yang belum optimal banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Pada banyak kasus, cacat bawaan seperti spina bifida (cacat tabung otak), toksoplasma dan hidrosefalus terjadi akibat kualitas nutrisi yang buruk selama hamil. Bahkan nutrisi sebelum hamil juga mempengaruhi proses kehamilan itu sendiri. 

Sementara banyak sekali keluhan pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Faktor makanan adalah salah satu di antara sekian faktor yang memengaruhinya. Nutrisi yang baik merupakan modal sekaligus kesempatan untuk sel telur maupun sel sperma serta sel-sel organ-organ lainnya untuk bekerja semaksimal mungkin dalam proses pembuahan.Lagi-lagi, perempuan dan ibu sebagai pengasuh pertama dan utama yang menjadi kambing hitam. Usut punya usut pengaruh nutrisi juga diteliti oleh WHO tahun 2003 yang mengungkapkan bahwa kualitas nutrisi terutama pada ibu hamil memberikan pengaruh besar pada kemampuan belajar anak, kemampuan tubuh melakukan aktivitas fisik, kemampuan menghindari infeksi, kemampuan reproduksi terutama pada anak perempuan, kemampuan memiliki kesehatan yang prima saat dewasa serta produktivitas saat bekerja. Artinya pengetahuan dan kreativitas ibu sebelum hamil, saat hamil hingga persalinan membawa pengaruh besar pada cetakan generasi yang akan hidup di masa depan. Istilahnya ibu-ibu yang hidup saat ini bertanggung jawab penuh pada bagaimana baik-buruknya peradaban masa mendatang.

Tanggung jawab besar ini bukan semata milik para ibu atau calon ibu. Para ayah juga bertanggungjawab untuk menfasilitasi agar para ibu dapat menemukan kembali perannya sebagai sekolah pertama dan pondasi pendidikan utama anak-anaknya. Kehidupan yang serba cepat, emansipasi yang tidak wajar hingga globalisasi yang tinggal landas membuat kaum perempuan para calon ibu atau para ibu sendiri kehilangan jati dirinya. Hasil pendidikan dan kehidupan materialis selama ini memberikan tujuan hidup baru bagi kaum perempuan bahwa karir, pekerjaan dan pendidikan tinggi adalah hal-hal yang harus dicapai. Sedangkan urusan domestik seperti mendidik anak sebaik-baiknya, mengurus rumah dengan sempurna hingga mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pembentukan suatu generasi mulai nutrisi, kesehatan, edukasi hingga psikologi terlampau diabaikan. Peran ibu sebagai sekolah pertama generasi baru lenyap sudah. Muncul anggapan bagi banyak orang, sudah ada sekolah yang mampu menangani semua urusan mendidik anak.

Cukup sudah anak-anak kita berorang-tuakan TV atau sekolah saja. Rasanya semua orang tua terutama ibu tidak akan rela anak-anak mereka hanya menjadi generasi terpinggirkan yang lemah. Lemah badannya, lemah prinsip hidupnya, lemah kehidupan agamanya dan lemah-lemah lainnya. Karena itulah diperlukan suatu mekanisme baru dalam masyarakat yang memberdayakan kaum perempuan untuk mengambil perannya kembali sebagai ibu sejati. Mekanisme baru tersebut berisi pembekalan, pengarahan, komunitas, diskusi dan motivasi bagi para ibu untuk mempelajari lebih dalam tentang segala seluk beluk perawatan dan pengasuhan anak-anak. Istilah mekanisme baru bisa disederhanakan dalam “sekolah ibu”. 'Sekolah ibu masa depan' berisi kelas-kelas yang mesti diambil dan dipelajari secara tuntas oleh seluruh kaum wanita baik yang belum atau sudah menikah. Sekolah ibu ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para ibu akan berbagai pengetahuan dasar seperti kelas pra nikah, kelas hamil, kelas persalinan, kelas ASI, kelas tumbuh kembang anak 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan seterusnya. Termasuk di dalamya dilengkapi dengan materi penting mulai dari nutrisi keluarga, psikologi anak, manajemen rumah tangga, komunikasi, keuangan keluarga, tata boga, tata busana hingga kreativitas mendidik anak.

Ibu Berperan Cegah Penularan HIV/AIDS

Mencetak Motivator ‘Parenting Skill’

Dahsyatnya Doa “Duduk Diantara Dua Sujud”

“Shalihah-Cantik-Sehat : Karena Setiap Perempuan Begitu berharga”, Press Release Kegiatan Seminar Kesehatan Salimah Taiwan

Perguliran Pimpinan Dalam Dinamisasi Organisasi
Posted by: Salimah by  Salimah December 18, 2014 Salimah News

Musyawarah Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Timur yang berlangsung pada tgl 13 dan 14 Desember 2014 di Gedung LPMP Ketintang Surabaya menjadi bukti bahwa Salimah merupakan ormas perempuan yang dinamis. Muswil kedua dihadiri oleh 22 perwakilan Pimpinan Daerah yang ada di Jawa Timur. Seluruh pengurus pimpinan wilayah hadir juga dr. Rita Pane selaku Dewan Pembina Salimah Wilayah.
PW Salimah Jatim selama tiga periode secara berturut-turut diketuai oleh muslimah yang bergelar dokter, yakni dr.Rita Pane, dr.Aida M.kes dan periode 2014 sd 2018 terpilih dr.Anna susanti.

Pada masa kepengurusan periode kedua bertambah deklarasi lima Pimpinan Daerah yaitu PD Situbondo, PD Ponorogo, PD Mojokerto,PD Kabupaten Malang dan PD kabupaten Trenggalek, hingga kini telah terbentuk 37 PD Salimah di Jawa Timur.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pengurus, PW Jatim pernah mengadakan LKM (Latihan Kepemimpinan Muslimah), Rakorwil, Raker dan Kunjungan wilayah dalam usaha menguatkan struktur organisasi.
Sebagai langkah publikasi dan peningkatan kualitas kaum perempuan dan keluarga, PW Salimah Jatim mencetak majalah tiga bulanan, mengadakan Workshop media dan kehumasan juga secara rutin mengisi di RRI Surabaya setiap bulan dan Radio Sham FM.
Program penguatan ekonomi juga dilakukan seperti Kossuma dan simpan pinjam serta pelatihan internet marketing bagi kaum ibu dan perempuan enterpreneur.
Program dakwah dan pendidikan yg sudah berjalan secara rutin seperti taklim bulanan sister, daurah muballighoh. Ada juga Jatim berjilbab dengan membagikan jilbab secara gratis kepada muslimah penyapu jalan dan dhuafa